Ho Chi Minh — Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melalui Unit Kerja Sama (UKERMA) melakukan kunjungan ke Vietnam National University, University of Social Sciences and Humanities (VNU USSH) pada 7–9 September 2026. Kunjungan ini bertujuan menginisiasi kerja sama akademik dalam pengembangan Program Youth Peace Education sekaligus memperkuat jejaring internasional Undiksha di kawasan Asia Tenggara.
Delegasi Undiksha yang terdiri atas Nice Maylani Asril, Ph.D., Dr. Ni Wayan Surya Mahayanti, dan Ni Luh Putu Era Adnyayanti, M.Pd., diterima oleh Prof. Dr. Ngo Thi Phuong Lan, President VNU USSH beserta tim. Pertemuan membahas peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan, pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, pengembangan kurikulum, serta berbagai kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
Nice Maylani Asril, Ph.D. menyampaikan bahwa kerja sama ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam mengembangkan pendidikan perdamaian yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. “Melalui kerja sama dengan VNU USSH, kami berharap dapat membangun Program Youth Peace Education yang memberikan perspektif internasional sekaligus membekali generasi muda dengan kemampuan berdialog, menghargai keberagaman, dan berkontribusi dalam membangun perdamaian di masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Ngo Thi Phuong Lan menyambut positif inisiasi kerja sama tersebut. “VNU USSH menyambut baik inisiatif Undiksha. Pendidikan perdamaian sangat penting dalam membangun generasi muda yang inklusif, mampu memahami keberagaman, serta memiliki kemampuan untuk menciptakan dialog dan kehidupan masyarakat yang harmonis, terutama tingkat ASEAN,” ungkapnya.
Program Youth Peace Education, yang kemudian akan menjadi cikal bakal Yout Peace Forum tingkat ASEAN nantinya, diharapkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui penguatan kompetensi generasi muda sebagai agen perdamaian. Mahasiswa dapat terlibat dalam kegiatan literasi perdamaian, dialog lintas budaya, pendidikan toleransi, pencegahan kekerasan, dan proyek pemberdayaan masyarakat. Dengan mengintegrasikan perspektif global dengan nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana di Bali, program ini diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang mampu membangun perdamaian dari lingkungan terdekat hingga komunitas global.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Dr. Ni Ketut Surya Mahayanti turut diundang sebagai pembicara dalam Sharing Session yang membahas Peace Education dalam perspektif budaya Bali. Dalam paparannya, ia mengaitkan pendidikan perdamaian dengan filosofi Tri Hita Karana, yaitu konsep keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), serta manusia dengan lingkungan (palemahan). Filosofi ini menjadi perspektif budaya yang relevan dalam pendidikan perdamaian karena menekankan pentingnya membangun kehidupan yang harmonis, saling menghargai, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. (Adm)








