Buleleng – Persoalan sampah yang semakin kompleks di Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia menjadi perhatian berbagai pihak. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bersama Windesheim University, Belanda, kembali melanjutkan implementasikan program kerja sama berkelanjutan di bidang garbage management atau pengelolaan sampah di Desa Kayuputih, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Program kolaborasi yang telah berlangsung selama beberapa tahun ini tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga pada praktik nyata pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat diajak memahami bahwa penyelesaian masalah sampah harus dimulai dari langkah paling sederhana, yakni pemilahan sampah sejak setelah digunakan atau pasca konsumsi.
I Nengah Edi Budiarta, M.Sc., selaku Dosen pendamping menyatakan bahwa perubahan perilaku masyarakat merupakan fondasi utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. “Pengelolaan sampah tidak dimulai di tempat pembuangan akhir, tetapi dimulai dari rumah tangga. Ketika masyarakat sudah terbiasa memilah sampah sejak selesai digunakan, maka proses pengolahan berikutnya menjadi jauh lebih mudah dan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya disela kegiatan mentoring program ini, Selasa (09/06/2026).
Dalam implementasinya, sampah organik dipisahkan untuk diolah menjadi pupuk kompos dan eco-enzyme yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair, pembersih alami, maupun bahan pendukung pertanian ramah lingkungan. Sementara itu, sampah anorganik, khususnya plastik, diproses kembali menjadi berbagai produk bernilai guna seperti paving block dan perlengkapan rumah tangga sederhana.
Jannie-Lensen, koordinator dari Windesheim University menyampaikan bahwa kerja sama ini menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat berkontribusi secara nyata dalam menyelesaikan persoalan lingkungan melalui kolaborasi lintas negara. “Kami melihat potensi besar masyarakat Bali dalam membangun sistem ekonomi sirkular. Sampah bukan lagi sesuatu yang harus dibuang, tetapi merupakan sumber daya yang dapat diolah kembali apabila dikelola dengan benar,” ungkapnya.
Kepala Desa Kayuputih, Gede Gelgel Ariawan, mengapresiasi keberlanjutan program tersebut. Ia menilai pendampingan yang dilakukan oleh Undiksha dan Windesheim University telah memberikan dampak positif bagi masyarakat desa. “Kami merasakan manfaat yang nyata. Masyarakat mulai memahami pentingnya memilah sampah, bahkan beberapa kelompok sudah mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual. Ini bukan hanya tentang lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga,” tuturnya.
Melalui sinergi yang terus terjalin antara Undiksha, Windesheim University, Pemerintah Desa Kayuputih, dan masyarakat, program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membentuk ekosistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Sebab pada akhirnya, menjaga Bali tetap bersih bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat demi mewariskan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang. (Adm)




